Resume buku "RISALAH PERGERAKAN MAHASISWA"
Penulis : Indra Kusumah
Penerbit : INDYDEC PRESS
Tahun terbit : 2007
MANAJEMEN AKSI PERGERAKAN MAHASISWA
- Risalah Pergerakan Mahasiswa, halaman 60-65 -
Aksi Massa adalah berhimpun dan bergeraknya sebuah komunitas sosial yang disebabkan oleh adanya wacana politik tertentu yang bisa dipahami secara rasional dan atau emosional. Aksi Pergerakan Mahasiswa adalah aksi massa yang digerakkan oleh para aktifis mahasiswa melalui LPM (Lembaga Pergerakan Mahasiswa) yang menjadikan WPM (Wacana Pergerakan Mahasiswa) sebagai platform gerakan.
Dalam psikologi sosial, apa yang sering dilakukan oleh aktifis pergerakan mahasiswa ini disebut aksi kolektif (collective action). Aksi kolektif adalah aksi spesifik yang dilakukan oleh beberapa orang dengan berorientasi terhadap tujuan khusus yang melibatkan perubahan sosial. Dalam hal ini adalah aksi-aksi demonstrasi yang menunjukkan rantai dari aksi kolektif dengan berorientasi terhadap tujuan khusus yang melibatkan perubahan sosial (Oliver, 1989).
Citra demontrasi dikalangan masyarakat sangat beragam. Tak sedikit diantara mereka yang beranggapan bahwa demonstrasi identik dengan kekerasan yang berakhir dengan bentrok dan kerusuhan. Bahkan, tak jarang media massa menayangkan demonstrasi disertai dengan luka dan korban jiwa. Hal itu menjadikan tak sedikit masyarakat yang anti terhadap demonstrasi.
Konstitusional Nir-kekerasan
Fenomena anti demonstrasi di kalangan masyarakat menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan karena akan berdampak pada efektifitas pergerakan mahasiswa. Masyarakat bisa jadi tidak memberikan respon positif terhadap aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa.
Pada dasarnya paradigma perubahan yang dihusung para aktifis pergerakan mahasiswa adalah konstitusional nir-kekerasan. Konstitusional berarti perubahan yang dituntut dan dilakukan pergerakan mahasiswa tetap menghormati dan menghargai konstitusi serta perundang-undangan yang ada. Nir-kekerasan berarti metode perubahan sosial dilakukan dengan cara-cara tanpa kekerasan.
Sharp, yang dijuluki sebagai "Machiavelli nir-kekerasan" menolak anggapan umum bahwa metode nir-kekerasan Gandhi tidak efektif untuk gerakan perubahan praktis dalam politik. Dari berbagai macam metode aksi, Sharp membagi ke dalam tiga bagian besar menurut derajat intensitasnya:
Ketika dengan protes, demonstrasi dan persuasi sudah berhasil, metode nonkooperasi tidak dipergunakan. Metode intervensi dipakai hanya sebagai senjata pamungkas ketika protes, persuasi dan nonkooperasi tidak berhasil.
Gerakan biasanya dibentuk dari beberapa kampanye kolektif. Pamela Oliver (1989), menyatakan bahwa gerakan sosial dicirikan dari jenis reaksinya, orang-orang yang melakukan gerakan sosial, hal yang ingin diubah dan tujuannya.
Ditinjau dari jenis aksinya, aksi kolektif dapat berupa:
Pergerakan mahasiswa seharusnya menghindari bentuk-bentuk violent action yang dilakukan dengan kekerasan, anarkis, kerusuhan dan teror publik. Aksi anarkis tersebutlah yang dapat memperburuk citra pergerakan mahasiswa sebagai pergerakan moral dan intelektual.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
~ Semoga Bermanfaat ~
Sharp, yang dijuluki sebagai "Machiavelli nir-kekerasan" menolak anggapan umum bahwa metode nir-kekerasan Gandhi tidak efektif untuk gerakan perubahan praktis dalam politik. Dari berbagai macam metode aksi, Sharp membagi ke dalam tiga bagian besar menurut derajat intensitasnya:
- Protes, demonstrasi, dan persuasi
- Nonkooperasi ekonomi, sosial, politik.
- Intervensi tanpa kekerasan.
Ketika dengan protes, demonstrasi dan persuasi sudah berhasil, metode nonkooperasi tidak dipergunakan. Metode intervensi dipakai hanya sebagai senjata pamungkas ketika protes, persuasi dan nonkooperasi tidak berhasil.
Gerakan biasanya dibentuk dari beberapa kampanye kolektif. Pamela Oliver (1989), menyatakan bahwa gerakan sosial dicirikan dari jenis reaksinya, orang-orang yang melakukan gerakan sosial, hal yang ingin diubah dan tujuannya.
Ditinjau dari jenis aksinya, aksi kolektif dapat berupa:
- Civil action (yaitu dengan berbicara dengan petugas, melakukan kampanye melalui penulisan surat, penyelenggaraan konferensi pers).
- Protest action (yaitu demonstrasi atau long march).
- Obstruction action (yaitu seperti aksi sabotase, melakukan aksi duduk dan mencegah orang yang ingin menjalankan tugas sewaktu diadakan pemogokan).
- Violent action (yaitu kerusuhan dan terorisme).
Pergerakan mahasiswa seharusnya menghindari bentuk-bentuk violent action yang dilakukan dengan kekerasan, anarkis, kerusuhan dan teror publik. Aksi anarkis tersebutlah yang dapat memperburuk citra pergerakan mahasiswa sebagai pergerakan moral dan intelektual.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
~ Semoga Bermanfaat ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar