Sabtu, 30 Maret 2019

Resume buku "RISALAH PERGERAKAN MAHASISWA"
Penulis : Indra Kusumah
Penerbit : INDYDEC PRESS
Tahun terbit : 2007

MANAJEMEN AKSI PERGERAKAN MAHASISWA

- Risalah Pergerakan Mahasiswa, halaman 60-65 -

Aksi Massa adalah berhimpun dan bergeraknya sebuah komunitas sosial yang disebabkan oleh adanya wacana politik tertentu yang bisa dipahami secara rasional dan atau emosional. Aksi Pergerakan Mahasiswa  adalah aksi massa yang digerakkan oleh para aktifis mahasiswa melalui LPM (Lembaga Pergerakan Mahasiswa) yang menjadikan WPM (Wacana Pergerakan Mahasiswa) sebagai platform gerakan.

Dalam psikologi sosial, apa yang sering dilakukan oleh aktifis pergerakan mahasiswa ini disebut aksi kolektif (collective action). Aksi kolektif adalah aksi spesifik yang dilakukan oleh beberapa orang dengan berorientasi terhadap tujuan khusus yang melibatkan perubahan sosial. Dalam hal ini adalah aksi-aksi demonstrasi yang menunjukkan rantai dari aksi kolektif dengan berorientasi terhadap tujuan khusus yang melibatkan perubahan sosial (Oliver, 1989).

Citra demontrasi dikalangan masyarakat sangat beragam. Tak sedikit diantara mereka yang beranggapan bahwa demonstrasi identik dengan kekerasan yang berakhir dengan bentrok dan kerusuhan. Bahkan, tak jarang media massa menayangkan demonstrasi disertai dengan luka dan korban jiwa. Hal itu menjadikan tak sedikit masyarakat yang anti terhadap demonstrasi.

Konstitusional Nir-kekerasan

Fenomena anti demonstrasi di kalangan masyarakat menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan karena akan berdampak pada efektifitas pergerakan mahasiswa. Masyarakat bisa jadi tidak memberikan respon positif terhadap aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa.

Pada dasarnya paradigma perubahan yang dihusung para aktifis pergerakan mahasiswa adalah konstitusional nir-kekerasan. Konstitusional berarti perubahan yang dituntut dan dilakukan pergerakan mahasiswa tetap menghormati dan menghargai konstitusi serta perundang-undangan yang ada. Nir-kekerasan berarti metode perubahan sosial dilakukan dengan cara-cara tanpa kekerasan.

Sharp, yang dijuluki sebagai "Machiavelli nir-kekerasan" menolak anggapan umum bahwa metode nir-kekerasan Gandhi tidak efektif untuk gerakan perubahan praktis dalam politik. Dari berbagai macam metode aksi, Sharp membagi ke dalam tiga bagian besar menurut derajat intensitasnya:

  • Protes, demonstrasi, dan persuasi
          → Penyampaian tuntutan dengan jalan komunikasi publik, agar penguasa menanggapinya.
  • Nonkooperasi ekonomi, sosial, politik.
          → Aksi nir-kekerasan dengan cara tidak mau kerjasama dengan rezim sehingga kerja rezim terganggu
  • Intervensi tanpa kekerasan.
          → Menekan secara psikologis dan fisik tanpa kekerasan kepada pihak lawan atau penguasa.

Ketika dengan protes, demonstrasi dan persuasi sudah berhasil, metode nonkooperasi tidak dipergunakan. Metode intervensi dipakai hanya sebagai senjata pamungkas ketika protes, persuasi dan nonkooperasi tidak berhasil.


Gerakan biasanya dibentuk dari beberapa kampanye kolektif. Pamela Oliver (1989), menyatakan bahwa gerakan sosial dicirikan dari jenis reaksinya, orang-orang yang melakukan gerakan sosial, hal yang ingin diubah dan tujuannya.
Ditinjau dari jenis aksinya, aksi kolektif dapat berupa:

  • Civil action (yaitu dengan berbicara dengan petugas, melakukan kampanye melalui penulisan surat, penyelenggaraan konferensi pers).
  • Protest action (yaitu demonstrasi atau long march).
  • Obstruction action (yaitu seperti aksi sabotase, melakukan aksi duduk dan mencegah orang yang ingin menjalankan tugas sewaktu diadakan pemogokan).
  • Violent action (yaitu kerusuhan dan terorisme).


Pergerakan mahasiswa seharusnya menghindari bentuk-bentuk violent action  yang dilakukan dengan kekerasan, anarkis, kerusuhan dan teror publik. Aksi anarkis tersebutlah yang dapat memperburuk citra pergerakan mahasiswa sebagai pergerakan moral dan intelektual.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
~ Semoga Bermanfaat ~

⇊ FIELD REPORT⇊

PKMF MIPA 1 2019


Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum Warrahmatullaah Wabarakatuuh...



Pada hari Rabu, 27 Maret 2019 telah diadakan Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (PKMF MIPA) 1 yang dimulai pada pukul 16.00, bertempat di Lantai 10 Gedung Dewi Sartika, Universitas Negeri Jakarta. Dalam acara ini, Pakaian peserta PKMF MIPA telah ditentukan, yaitu untuk laki-laki menggunakan; celana hitam, kemeja putih lengan panjang, kaos kaki, serta nametag jepit, dan untuk peserta perempuan menggunakan; rok bahan hitam, kemeja/tunik putih, kerudung putih (muslim), kaos kaki, serta nametag.



Sebelum acara dimulai, peserta melakukan presensi terlebih dahulu di depan ruangan, lalu peserta memasuki ruangan. Kemudian, acara dibuka oleh MC, pembacaan Al-Qur'an oleh salah satu peserta laki-laki, dan para peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh salah satu peserta perempuan, serta pengucapan jargon yang dipimpin oleh salah satu peserta laki-laki. Jargon PKMF MIPA berbunyi, "Pemuda menginspirasi, berintegritas, totalitas, tanpa batas" yang diucapkan dengan begitu semangat oleh peserta. Selanjutnya, dibacakan tata tertib PKMF MIPA 2019 oleh perwakilan sie. acara, yang  menandakan berlakunya tata tertib tersebut. 

Tibalah diacara inti, yaitu pemberian materi oleh narasumber. Pemberian materi ini dibuka oleh Alfian Putra Utama dari prodi Kimia 2017, selaku moderator acara. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Al Bais Basyari dari Prodi Pendidikan Agama Islam 2015 yang berjudul "URGENSI KADERISASI". Berikut ini adalah isi singkat dari materi tersebut.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"URGENSI KADERISASI"

oleh Al Bais Basyari


Kaderisasi menurut KBBI adalah proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseseorang menjadi kader.
Bung Hatta pun berpendapat bahwa kaderisasi itu adalah menanam bibit untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan. Pemimpin pada masanya harus menanam bibit yang baik agar mendapatkan penerus yang baik pula.


Mengenai kaderisasi, ternyata telah disinggung pula di dalam kitab suci Al-Qur'an. Allah Berfirman dalam surah An-Nisa/4 : 9 yang artinya :
"Dan hendaklah takut kepada  Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisa/4 : 9)


Kaderisasi memiliki tugas, yaitu :
  1. Pembentukan
  2. Penjagaan
  3. Peningkatan kualitas kader
  4. Pewarisan
Kaderisasi juga memiliki fungsi, yaitu :
  1. Pewarisan nilai organisasi
  2. Penjamin keberlangsungan organisasi
  3. Sarana belajar bagi anggota

Mengapa Kaderisasi itu penting ?
Kaderisasi  sangat penting karena dapat menjadi bagian yang memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan organisasi dengan menciptakan dan menjaga kader-kader yang akan melanjutkan estafet perjuangan. Kaderisasi juga mengajak seseorang untuk berpola pikir dewasa dan terbuka, disaat orang lain sibuk memikirkan dirinya sendiri. Maka dari itu, ikutilah dan berpartisipasilah dalam setiap pengkaderan yang ada.


Tantangan Dalam Kaderisasi
  • Ayah kader meninggal dan harus menjadi tulang punggung keluarga 
  • Kader harus kejar skripsi karena tuntutan keluarga dan kerja BEM menjadi terlantar
  • Kader tidak tertarik dengan agenda pengkaderan.

Kaderisasi yang Efektif dan Ideal
  • Konsep yang terencana
  • Waktu yang teragendakan
  • Input dan Output yang jelas
Semua pengkaderan harus dimulai dari niat yang baik dan hati yang tulus. Bila ingin sukes dikaderisaasi, jadilah pendengar yang baik kepada setiap orang dengan cara meletakkan hati terlebih dahulu, baru kemudian telinga.


Disaat orang lain meminta, engkau memberi
Disaat orang lain menyalahkan, engkau memaafkan
Disaat orang lain saling menyakiti, engkau menebar kasih sayang
Disaat orang lain mengucilkan kekurangan, engkau menutupinya.
- Al Bais Basyari -

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah pemberian materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh 2 orang penanya, laki-laki dan perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan pengucapan jargon yang dipimpin oleh salah satu peserta perempuan. Lalu ditutup dengan pembacaan doa.


Sekian Field report yang dapat saya tuliskan, semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan manfaat dari apa yang sudah tertulis tersebut.


Wassalamu'alaikum Warahmatullaah Wabarakatuuh